“Di
kala Takdir Menyapa”
Karya:
Ulil Amri
Gemericik
hujan di 1/3 malam membuatku semakin merapatkan selimut tebalku.Tapi aku tak
boleh lalai,aku harus melaksanakan kebiasaanku dikala 1/3 malam mulai datang.Iya,aku
akan bersimpuh dan bertahajjud kepada sang Illahi,kujernihkan fikiranku dan
melangkah menuju basuhan air wudhu nan suci.Heningnya malam menambah
kekhusyukkan ibadah dan sejuknya jiwaku.Tak lupa selalu ku selipkan sendi-sendi
do’a untuk kedua orang tuaku di syurga juga adikku.
***
Dinginya embun
pagi merasuk kalbu , gugusan awan
menyelimuti kabut dan seketika sang surya
enggan menampakkan wajahnya. Jaket tebal kukenakan ,sarung tangan juga ku
pakainya tapi tetap saja bulu- bulu tanganku menggetar,tak tahan rasanya
merasakan dinginya esok ini. Segera kunaiki scoopy merahku dan melaju kencang
.Sesampainya di kampus ,seketika ku teringat akan kejadian itu, yang membuat
hidupku lengah tak berdaya,hanya hidup sebatang kara.tapi hidupku tak pupus
akan semangatku yang kian merombak.
aku dan adikku kala itu tak pernah merasakan
kurangnya kasih sayang, tapi kami juga tak manja. Karena mama dan papa juga
mengajarkan pada kami arti pentingnya kemandirian.Yang ternyata hal itu sangat
berguna sekarang, khususnya bagi diriku sendiri .
“Ma, Pa bentar
lagi kan Frizal lulus SD, Frizal punya permintaan nih.” Celoteh adikku dengan
semangatnya
“Permintaan apa
sayang, anak mama ini minta apa saja pasti mama turuti asalkan mintanya hal
yang baik – baik dan tak berlebihan.”ucap mama dengan senyum indahnya.
“Aku ingin nanti
ketika SMP, aku belajar di pesantren ya Ma,Pa ..?aku ingin belajar mandiri yang
sesungguhnya seperti yang Mama dan Papa ajarkan kepada Frizal, esok nanti ketika
Frizal dewasa, Frizal tak lagi merepotkan mama papa, iya kan kak?” ulasnya
panjang lebar.
“iya adikku
tersayang…Kakak sih setuju – setuju aja, tapi nanti kakak kangen dong sama satu
adek kakak yang bawel ini” sontak saja mereka semua tertawa (indahnya
kebersamaan dikala itu)
“Bagaiman? Mama
Papa pasti setuju kan…?” Pintanya .Senyumnya mengembang seraya memohon.
“Bagaimana ya …benar
kata kakak tadi, nanti nggak ada yang meramaikan rumah ini dong” ucap mama
menggodanya.
“Ah Mama ini,
kalau Papa setuju kan Pa?”tanyanya.
“iya Frizal
sayangnya Papa, untuk permintaan kali ini, tak pantas Papa menolak niat baik
Frizal, Papa pasti mengizinkan kamu untuk menyantri di pesantren . Kebetulan
ada teman Papa di daerah perbukitan yang rumahnya dekat pesantren,jadi nanti
kalau ada apa-apa kamu bisa bicara ke teman Papa, dia baik kok sayang” cerita
Papa panjang lebar.
“Oke pa sip.”
Jawabnya penuh semangat.
***
(Penerimaan
Siswa Baru)
“Pak Rodi,tolong
dipersiapkan dan di cek mobilnya ya..Supaya nanti ketika berangkat ke
pesanteren bias selamat sampai tujuan. ” perintah mama kepada sopir kami.
“Iya Nyonya,
akan saya cek kembali. Jam berapa kita akan berangkat Nyonya?”tanyanya. “bentar
lagi setelah semuanya beres mungkin sekitar setengah delapan Pak.”
“Ma, tiba-tiba aku ada kegiatan di kampus , jadi
aku tak bisa ikut mengantar adik Ma, tapi aku ingin ikut ngantar Ma..”ucapku mengagetkan mereka yang tiba-tiba
muncul dari balik pintu.
“iya nggak papa
sayang, besok-besok juga bisa njenguk adik di pesantren. Kamu ikut kegiatan di
kampus aja ya, sudah pamitan gih sama adik di kamar.” Titah mama
kepadaku.Segera ku menuju kamarnya
sedikit bercanda ria dan lepas salam ,ku lantunkan doa keberkahan ilmu
yang di dapatnya kelak di pesantren. Dan aku pun berangkat ke kampus .
***
Di tengah
asyiknya kegiatan ,seketika bergetar hp disaku pertanda pesan singkat di
layangkan kepadaku.Kubuka segera,
“Non, Nyonya dan sekeluarga mengalami kecelakaan Non,
sekarang berada di RS BHAKTI NUSA, Mbok tunggu disana Non.”
Jantungku
berdengkup kencang, badanku bergetar ,pikirku tak karuan lantas ku berlari dan segera
memacu sepedaku menuju RS itu, air mataku meleleh tak kuasa menahan derasnya air
mata kekhawatiran.Ku lantunkan dzikir berkali-kali juga doa untuk keselamatan
mereka.
Ku memasuki RS dan kulihat wajah yang
kukenal di depan ruangan pojok yang bertuliskan ICU, segera kuberlari
menghampirinya.
“Mbok Nori, mama papa dan adik dimana??bagaimana
keadaan mereka?bagaimana Mbok??”ucapku nada tinggi tak terkontrol, tak kufikirkan
pandangan orang-orang disebelahku kepadaku. Kulihat mbok Nori tertunduk dengan basahan
air mata di pipinya. Ia tak menjawab pertanyaanku.
“Mbok, jawab
dong. Dimana mereka Mbok??”
“Sabar, tenanglah
Non.Non masha duduk dulu disini (menunjuk kursi kosong disebelahnya), mari bibi
jelaskan,,Kedua orang tua Non Masha, sekarang di evakuasi di kamar jenazah.
Kejadiannya ketika mereka akan menuruni jalan di daerah perbukitan, mereka
terperosok ke jurang, karena remnya blong dan mereka tak bisa diselamatkan. Tapi
Alhamdulillah Mas Frizal selamat dalam dekapan pelukan Nyonya. Tapi keadaan Mas
Frizal sekarang kritis di ruang ICU Non.”(Mbok Nori mendongkakkan kepala di
ruangan depannya ia duduk bersamaku). Derasan air mataku semakin mengalir,
wajahku pucat, mataku lebam, dan aku tak bisa berkata apa-apa. “Apa yang harus ku
lakukan ya Rabb.” Batinku mengelak. Andai aku bisa protes . kepada siapa aku
harus mengelak, apakah pada takdir? Tidak. Astaghfirullah..segera ku mengintip
adikku di pintu transparan ruang ICU, aku semakin sedih melihatnya terbaring
lemah tak berdaya, banyak luka yang tergores di tubuhnya. Mbok Nori melangkah
menuju arahku.
“Kata dokter, mas Frizal memungkinkan
mengalami kebutaan Non, karena syaraf motoriknya putus dan…”
“Stop Mbok
jangan teruskan lagi.” Ku bentak beliau dengan keras, tak kuat rasanya
mendengar perkataan yang menyayat hati mengenai kondisi adikku. Segera
kuberlari menenangkan diri dan meyakinkanku bahwa ini tidak benar terjadi.
Mereka semua sekarang masih di pesantren adik. Kutetapkan itu, tapi batinku tak
bisa berbohong bahwa ini adalah kenyataan. Kulihat di depanku ada musholla.
Segeraku berdoa, bersujud,dan memohon kepada Sang pencipta untuk diberi
keikhlasan dan ketabahan atas cobaan berat ini.
***
“malam ini adik
harus bersyukur masih diberi kesehatan, dan bintang disini begitu banyak nan
indah, disana mama dan papa mengirimkan salamnya untuk kita. Mereka bahagia di
syurga”. Hiburku seraya menjelaskan keindahan malam yang tidak bisa ia lihat ,
hanya gelap gulita yang dilihatnya. Ia berubah 100% setelah keluar dari rumah
sakit. Dulu ia periang, pintar, penuh semangat. Tapi kini semuanya itu sirna.
Ia hanya diam murung tak mau bicara. Tak peduli pada orang lain bahkan dirinya
sendiri, terkadang ia sering marah-marah sendiri. Mungkin ia berfikir hidupnya
tak berguna tanpa orang tua dan mata.
Di tengah
lamunanku, ia pergi ke dalam rumah meninggalkankusendiri di taman ini. Segera
kususul dia dan membantu menuntunnya.
Di pagi harinya Mbok Nori
mengagetkanku. “Non, tadi pagi ketika saya ke kamarnya mas Frizal, mas Frizalnya
tidak ada Non, udah saya cari di sekeliling rumah tapi tidak ada, entah kemana
perginya Non.” Ucap Mbok Nori gugup.
“Loh ,.Mbok kok
bisa? gimana ini, ayo kita cari sama-sama disekitar jalan sini, pasti dia belum
j jauh dari sini.”
“Tidak Non,
kelihatannya hilangnya mas Frizal dari kemarin, soalnya lampu kamarnya masih
menyala dan tirainya masih tertutup.”
“Aduh gimana ini
Mbok, bagaimana kalau ada apa-apa dengan dia.” Kekhawatiranku terhadapnya
memuncak.
“ya sudah Non,
saya hubungi polisi saja.”
“iya Mbok ,
segera.”
***
Frizal tak tahan dengan kondisi dan
keadaanya ia memilih kabur dari kehidupannya, dan entah kemana tujuannya. Ia
mendengar bunyi kereta api yang menandakan bahwa ia menapak di stasiun.
Dicarinyalah tempat duduk. Ditengah lamunannya, pemuda kurus kering yang berada
di sampingnya itu mengajaknya bicara, spontan saja adikku diam tak
menghiraukannya. ia pun mengerti adikku Frizal fikirinnya seperti kosong,
lantas ditawarinya minum serta permen.
Tiba-tiba Pusing ia rasakan bak
melayang, ringan sangat badannya. Pemuda itu menawari adikku untuk istirahat di
markasnya. Tak sadarkah adikku bahwa pemuda yang bernama Santo itu berniat
buruk terhadapnya…?, entahlah ,tapi Frizal tetap menuruti dan mengikutinya . Setiba
di markas,ternyata Santo beserta komplotanya adalah preman,dipukulinyalah
adikku hingga muntah darah,sontak adikku melawan. Tapi apa daya ia hanya
sendiri, juga cacat pula. Para komplotan itu tertawa terbahak-bahak, mereka
memasukkan serbuk-serbuk kecil putih ke dalam mulut Frizal yang ternyata adalah
Sabu-sabu dan macam-macam narkoba lainya. Sungguh, apakah mereka punya rasa
kemanusiaan??. Adikku terbelengkai tak berdaya.
Setelah adikku
sadar dan mulailah bicara ia “masih punyakah kalian permen dan serbuk seperti
kemarin yang kalianberikan kepadaku?”. Lantas saja mereka semakin
terbahak-bahak.
“Enak saja
tinggal minta, benda itu mahal harganya dan kamu harus menggantikan semua
yang telah kamu konsumsi kemarin.” Bentak
salah satu preman-preman itu.
“Aku tak punya
uang sepeserpun untuk membeli itu.” Jawab Frizal.
“Mangkanya kerja
dong, ngemis sana di jalan, buat apa cacat gak dimanfaatin, gak berguna. Dan
dan cari hasil sebanyak-banyaknya setelah itu kamu baru bias dapet sabu-sabu
itu.”
Ketika Frizal terpaksa menuju ke jalan untuk mengemis,
tiba-tiba bertepatan dengan razianya polisi ke markas para pemuda-pemuda itu.
Terang saja ditemukannya berbagai sabu-sabu dan jenis narkoba lainnya.
Adikkupun tertangkap pula oleh polisi, tak tahulah cobaan apa yang menimpanya,
apa yang ada difikirannya, apakah ia sudah tak butuh dunia ini.
Ia semakin tak
berdaya ia pasrahkan hidupnya. Dibawanya ia oleh polisi dan para pemuda-pemuda
itu , di tengah perjalanan sekuat tenaga Frizal coba tuk melompat dari mobil.Ketika
polisi lengah, berhasillah ia. Jasadnya berceceran nan jauh di jalan raya,
perutnya membual mengeluarkan semua isinya karena bertepatan melajunya truk
dengan kencang ketika ia melompat .Sungguh
engkau tidak memfikirkan betapa kakak ini menyayangimu, dan bagaimana hati ini
ketika kakak mendengar bahwa engkau meninggalkanku di dunia ini sendiri. Mengenaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar