Rabu, 15 Oktober 2014

Cerpen Narkoba

“Di kala Takdir Menyapa”
Karya: Ulil Amri
Gemericik hujan di 1/3 malam membuatku semakin merapatkan selimut tebalku.Tapi aku tak boleh lalai,aku harus melaksanakan kebiasaanku dikala 1/3 malam mulai datang.Iya,aku akan bersimpuh dan bertahajjud kepada sang Illahi,kujernihkan fikiranku dan melangkah menuju basuhan air wudhu nan suci.Heningnya malam menambah kekhusyukkan ibadah dan sejuknya jiwaku.Tak lupa selalu ku selipkan sendi-sendi do’a untuk kedua orang tuaku di syurga juga adikku.
                                                                        ***
Dinginya embun pagi merasuk kalbu  , gugusan awan menyelimuti kabut  dan seketika sang surya enggan menampakkan wajahnya. Jaket tebal kukenakan ,sarung tangan juga ku pakainya tapi tetap saja bulu- bulu tanganku menggetar,tak tahan rasanya merasakan dinginya esok ini. Segera kunaiki scoopy merahku dan melaju kencang .Sesampainya di kampus ,seketika ku teringat akan kejadian itu, yang membuat hidupku lengah tak berdaya,hanya hidup sebatang kara.tapi hidupku tak pupus akan semangatku yang kian merombak.
 aku dan adikku kala itu tak pernah merasakan kurangnya kasih sayang, tapi kami juga tak manja. Karena mama dan papa juga mengajarkan pada kami arti pentingnya kemandirian.Yang ternyata hal itu sangat berguna sekarang, khususnya bagi diriku sendiri .
“Ma, Pa bentar lagi kan Frizal lulus SD, Frizal punya permintaan nih.” Celoteh adikku dengan semangatnya
“Permintaan apa sayang, anak mama ini minta apa saja pasti mama turuti asalkan mintanya hal yang baik – baik dan tak berlebihan.”ucap mama dengan senyum indahnya.
“Aku ingin nanti ketika SMP, aku belajar di pesantren ya Ma,Pa ..?aku ingin belajar mandiri yang sesungguhnya seperti yang Mama dan Papa ajarkan kepada Frizal, esok nanti ketika Frizal dewasa, Frizal tak lagi merepotkan mama papa, iya kan kak?” ulasnya panjang lebar.
“iya adikku tersayang…Kakak sih setuju – setuju aja, tapi nanti kakak kangen dong sama satu adek kakak yang bawel ini” sontak saja mereka semua tertawa (indahnya kebersamaan dikala itu)
“Bagaiman? Mama Papa pasti setuju kan…?” Pintanya .Senyumnya mengembang seraya memohon.
“Bagaimana ya …benar kata kakak tadi, nanti nggak ada yang meramaikan rumah ini dong” ucap mama menggodanya.
“Ah Mama ini, kalau Papa setuju kan Pa?”tanyanya.
“iya Frizal sayangnya Papa, untuk permintaan kali ini, tak pantas Papa menolak niat baik Frizal, Papa pasti mengizinkan kamu untuk menyantri di pesantren . Kebetulan ada teman Papa di daerah perbukitan yang rumahnya dekat pesantren,jadi nanti kalau ada apa-apa kamu bisa bicara ke teman Papa, dia baik kok sayang” cerita Papa panjang lebar.
“Oke pa sip.” Jawabnya penuh semangat.
                                                            ***
(Penerimaan Siswa Baru)
“Pak Rodi,tolong dipersiapkan dan di cek mobilnya ya..Supaya nanti ketika berangkat ke pesanteren bias selamat sampai tujuan. ” perintah mama kepada sopir kami.
“Iya Nyonya, akan saya cek kembali. Jam berapa kita akan berangkat Nyonya?”tanyanya. “bentar lagi setelah semuanya beres mungkin sekitar setengah delapan Pak.”
 “Ma, tiba-tiba aku ada kegiatan di kampus , jadi aku tak bisa ikut mengantar adik Ma, tapi aku ingin ikut ngantar  Ma..”ucapku mengagetkan mereka yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“iya nggak papa sayang, besok-besok juga bisa njenguk adik di pesantren. Kamu ikut kegiatan di kampus aja ya, sudah pamitan gih sama adik di kamar.” Titah mama kepadaku.Segera ku menuju kamarnya  sedikit bercanda ria dan lepas salam ,ku lantunkan doa keberkahan ilmu yang di dapatnya kelak di pesantren. Dan aku pun berangkat ke kampus .



***
Di tengah asyiknya kegiatan ,seketika bergetar hp disaku pertanda pesan singkat di layangkan kepadaku.Kubuka segera,
Non, Nyonya dan sekeluarga mengalami kecelakaan Non, sekarang berada di RS BHAKTI NUSA, Mbok tunggu disana Non.”
Jantungku berdengkup kencang, badanku bergetar ,pikirku tak karuan lantas ku berlari dan segera memacu sepedaku menuju RS itu, air mataku meleleh tak kuasa menahan derasnya air mata kekhawatiran.Ku lantunkan dzikir berkali-kali juga doa untuk keselamatan mereka.
            Ku memasuki RS dan kulihat wajah yang kukenal di depan ruangan pojok yang bertuliskan ICU, segera kuberlari menghampirinya.
 “Mbok Nori, mama papa dan adik dimana??bagaimana keadaan mereka?bagaimana Mbok??”ucapku nada tinggi tak terkontrol, tak kufikirkan pandangan orang-orang disebelahku kepadaku. Kulihat mbok Nori tertunduk dengan basahan air mata di pipinya. Ia tak menjawab pertanyaanku.
“Mbok, jawab dong. Dimana mereka Mbok??”
“Sabar, tenanglah Non.Non masha duduk dulu disini (menunjuk kursi kosong disebelahnya), mari bibi jelaskan,,Kedua orang tua Non Masha, sekarang di evakuasi di kamar jenazah. Kejadiannya ketika mereka akan menuruni jalan di daerah perbukitan, mereka terperosok ke jurang, karena remnya blong dan mereka tak bisa diselamatkan. Tapi Alhamdulillah Mas Frizal selamat dalam dekapan pelukan Nyonya. Tapi keadaan Mas Frizal sekarang kritis di ruang ICU Non.”(Mbok Nori mendongkakkan kepala di ruangan depannya ia duduk bersamaku). Derasan air mataku semakin mengalir, wajahku pucat, mataku lebam, dan aku tak bisa berkata apa-apa. “Apa yang harus ku lakukan ya Rabb.” Batinku mengelak. Andai aku bisa protes . kepada siapa aku harus mengelak, apakah pada takdir? Tidak. Astaghfirullah..segera ku mengintip adikku di pintu transparan ruang ICU, aku semakin sedih melihatnya terbaring lemah tak berdaya, banyak luka yang tergores di tubuhnya. Mbok Nori melangkah menuju arahku.
 “Kata dokter, mas Frizal memungkinkan mengalami kebutaan Non, karena syaraf motoriknya putus dan…”
“Stop Mbok jangan teruskan lagi.” Ku bentak beliau dengan keras, tak kuat rasanya mendengar perkataan yang menyayat hati mengenai kondisi adikku. Segera kuberlari menenangkan diri dan meyakinkanku bahwa ini tidak benar terjadi. Mereka semua sekarang masih di pesantren adik. Kutetapkan itu, tapi batinku tak bisa berbohong bahwa ini adalah kenyataan. Kulihat di depanku ada musholla. Segeraku berdoa, bersujud,dan memohon kepada Sang pencipta untuk diberi keikhlasan dan ketabahan atas cobaan berat ini.
***
“malam ini adik harus bersyukur masih diberi kesehatan, dan bintang disini begitu banyak nan indah, disana mama dan papa mengirimkan salamnya untuk kita. Mereka bahagia di syurga”. Hiburku seraya menjelaskan keindahan malam yang tidak bisa ia lihat , hanya gelap gulita yang dilihatnya. Ia berubah 100% setelah keluar dari rumah sakit. Dulu ia periang, pintar, penuh semangat. Tapi kini semuanya itu sirna. Ia hanya diam murung tak mau bicara. Tak peduli pada orang lain bahkan dirinya sendiri, terkadang ia sering marah-marah sendiri. Mungkin ia berfikir hidupnya tak berguna tanpa orang tua dan mata.
Di tengah lamunanku, ia pergi ke dalam rumah meninggalkankusendiri di taman ini. Segera kususul dia dan membantu menuntunnya.
            Di pagi harinya Mbok Nori mengagetkanku. “Non, tadi pagi ketika saya ke kamarnya mas Frizal, mas Frizalnya tidak ada Non, udah saya cari di sekeliling rumah tapi tidak ada, entah kemana perginya Non.” Ucap Mbok Nori gugup.
“Loh ,.Mbok kok bisa? gimana ini, ayo kita cari sama-sama disekitar jalan sini, pasti dia belum j jauh dari sini.”
“Tidak Non, kelihatannya hilangnya mas Frizal dari kemarin, soalnya lampu kamarnya masih menyala dan tirainya masih tertutup.”
“Aduh gimana ini Mbok, bagaimana kalau ada apa-apa dengan dia.” Kekhawatiranku terhadapnya memuncak.
“ya sudah Non, saya hubungi polisi saja.”
“iya Mbok , segera.”
***
            Frizal tak tahan dengan kondisi dan keadaanya ia memilih kabur dari kehidupannya, dan entah kemana tujuannya. Ia mendengar bunyi kereta api yang menandakan bahwa ia menapak di stasiun. Dicarinyalah tempat duduk. Ditengah lamunannya, pemuda kurus kering yang berada di sampingnya itu mengajaknya bicara, spontan saja adikku diam tak menghiraukannya. ia pun mengerti adikku Frizal fikirinnya seperti kosong, lantas ditawarinya minum serta  permen. Tiba-tiba Pusing ia rasakan  bak melayang, ringan sangat badannya. Pemuda itu menawari adikku untuk istirahat di markasnya. Tak sadarkah adikku bahwa pemuda yang bernama Santo itu berniat buruk terhadapnya…?, entahlah ,tapi Frizal tetap menuruti dan mengikutinya . Setiba di markas,ternyata Santo beserta komplotanya adalah preman,dipukulinyalah adikku hingga muntah darah,sontak adikku melawan. Tapi apa daya ia hanya sendiri, juga cacat pula. Para komplotan itu tertawa terbahak-bahak, mereka memasukkan serbuk-serbuk kecil putih ke dalam mulut Frizal yang ternyata adalah Sabu-sabu dan macam-macam narkoba lainya. Sungguh, apakah mereka punya rasa kemanusiaan??. Adikku terbelengkai tak berdaya.
Setelah adikku sadar dan mulailah bicara ia “masih punyakah kalian permen dan serbuk seperti kemarin yang kalianberikan kepadaku?”. Lantas saja mereka semakin terbahak-bahak.
“Enak saja tinggal minta, benda itu mahal harganya dan kamu harus menggantikan semua yang  telah kamu konsumsi kemarin.” Bentak salah satu preman-preman itu.
“Aku tak punya uang sepeserpun untuk membeli itu.” Jawab Frizal.
“Mangkanya kerja dong, ngemis sana di jalan, buat apa cacat gak dimanfaatin, gak berguna. Dan dan cari hasil sebanyak-banyaknya setelah itu kamu baru bias dapet sabu-sabu itu.”
            Ketika Frizal  terpaksa menuju ke jalan untuk mengemis, tiba-tiba bertepatan dengan razianya polisi ke markas para pemuda-pemuda itu. Terang saja ditemukannya berbagai sabu-sabu dan jenis narkoba lainnya. Adikkupun tertangkap pula oleh polisi, tak tahulah cobaan apa yang menimpanya, apa yang ada difikirannya, apakah ia sudah tak butuh dunia ini.
Ia semakin tak berdaya ia pasrahkan hidupnya. Dibawanya ia oleh polisi dan para pemuda-pemuda itu , di tengah perjalanan sekuat tenaga Frizal coba tuk melompat dari mobil.Ketika polisi lengah, berhasillah ia. Jasadnya berceceran nan jauh di jalan raya, perutnya membual mengeluarkan semua isinya karena bertepatan melajunya truk dengan kencang  ketika ia melompat .Sungguh engkau tidak memfikirkan betapa kakak ini menyayangimu, dan bagaimana hati ini ketika kakak mendengar bahwa engkau meninggalkanku di dunia ini sendiri. Mengenaskan.


Cerpen Keberagaman budaya

Salahku??
Karya:Ulil Amri/35/XI MiiA 1

Sang Mentari tak henti-hentinya menampakkan kilauan sinarnya .Didampingi gugusan awan membentang putih nan cerah .Para rerumputan melambai liau diiringi kicauan burung meliuk-liuk dengan merdunya .Suasana ini menambah semangat pagiku tuk menjalani aktivitas hingga petang nanti.Kualihkan pandanganku menuju bangunan mewah nan megah dipersimpangan jalan itu yang tak lain adalah kampusku.Segera ku berjalan lebih cepat .Memang jarak kampus dengan kosku tak begitu jauh ,sehingga memungkinkanku tuk berjalan kaki.Kulihat Ujang tengah turun dari sepeda mionya.
            “Hai Ujang.”Sapaku dengan menepuk pundaknya dari belakang sembari menjajari laju jalanya.
            “Ah maneh mah nyien Abi Kapoho urang Sri …”Ucapnya kaget dengan logat sundanya  .
            “Ah,kowe iki ,aku ora ngerti bahasamu ,yawes kita duduk ing taman wae ,ben enak ngobrolnya.”Celotehku yang membuatnya tertawa dan mengikutiku duduk di taman .
            “Eh Sri siapa nanti dosen mata kuliahmu?”Tanyanya.
            “Aku nanti speaking dosenya Pak Rido .Kamu sendiri Jang?”Tanyaku balik.
            “Aku juga speaking tapi Pak Ardi.Udah jam 8 kurang nih,gak masuk kita?”Ajaknya .
            “Ah kamu Jang,masih jam 8 kurang wae.lagian Pak Rido biyasanya telat.tapi kalo kamu mau masuk duluan,ya sudah sana gih.”Seruku sembari menampakkan raut muka cemberut.
            “Eleh-eleh Sri,kunaon maneh mah bete’ wae.Urang mah ente tiasa ey arek ka kelas.”Ucapnya tak tega melihatku cemberut.
            “Eih,biarin terserah aku dong mukaku mau cemberut kek apa kek.Ya udah ayo kita masuk kelas aja deh .Udah nih aku senyum tuk sobatku tercinta,haha.” Ucapku seraya menggodanya.
            “Yaps ,siip” ia meninggalkanku dan berlalu.
                                                                        ***
            Sebenarnya ada satu lagi sahabat kami dari kami bertiga yaitu As’ad.Ia dari Sulawesi tepatnya di Makassar.Tapi kini kami hanya bisa mendoakan agar ia berada di syurga dan diterima disisi Allah.Sungguh tak kuasa jika mengingat kejadian itu.Aku juga merasa bersalah atas kejadian yang  telah menimpa As’ad Kala itu tak henti-hentinya aku terus menyalakan diriku.Tapi Ujang degan sabar menenangkanku bahwa ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa dan itu bukan salahku.
            “Sri,Ujang.Ayo nanti kita ke pasar malam yuk,Bete nih di kos sendiri.”Ajak As’ad dengan semangatnya ketika itu.
“Iya nih Ad ,Aku setuju.nanti kumpul di rumahmu ya…”Ucapku senang.
“Siip,oke .kutunggu nanti  jam  7.”
                                                            ***
“Ramenya nih,ayo kita duduk disana dulu gih .” Kataku sambil kutunjukkan tempat yang lumayan sepi di pasar malam.
“oke.”Sahut mereka berdua.
“Aku belikan es krim contong ya kalian ,bentar tunggu disini.” Segera ku membelikan untuk kami bertiga.dan kami pun menikmatinya.
“Ih pinter nih satu anak ,tau aja kalo pingin es krim .”Puji Ujang .
“Ya iya dong siapa dulu putrid cantik Sri gituloh.Haha”Sontak saja mereka ikut tertawa .
“Eh sob,aku cari toilet dulu ya deket sini.tunggu gue nih jangan ditinggal loh.” Ucap ujang dengan berlari.Ia meninggalkan kami berdua aku dan as’ad dalam keheningan .Ia mendekatiku  seperti ingin mengatakan sesuatu.jantungku berdengkup  kencang ,adanku bergetar.tapi kusembunyikan darinya  dan ku berlagak santai .
            Setelah kami basa-basi berbincang yang tak terlalu penting.tiba-tiba ia terdiam dan tertunduk bak malu.
            “Emmm…Sri Sebenarnya udah dari dulu aku ingin mengatakanya .Tapi baru sekarang aku berani mengungkapkanya bahwa aku mencintaimu lebih dari seorang sahabat. Emmm bagaimana denganmu ?maaf ya jika aku spontan mengungkapkanya.” Ulasnya lirih tak berani menatapku ,memang ia pemalu..
            “Bagaimana ya Ad,maaf banget sebelumnya…tapi jujur sebenarnya dihatiku sudah ada orang lain tapi ia belum peka.maaf banget Ad.” Tak tega ku mengatakan demikian .Tapi bagaimana lagi??
Beruntung Ujang sudah datang .Jadi kami menutupi hal itu dan kami pun berpisah menuju kediaman masing-masing.
                                                                        ***
 Aku tak bisa tidur .dan sembari tadi mondar mandir dikamar memikirkan sebuah kejadian yang tak disangka. As’ad menyukaiku ,padahal yang ku harapkan ialah Ujang .Tapi kenapa ia tak peka sedikitpun terhadapku.Sebenarnya aku juga kasihan As’ad yang sudah berusaha tuk berani mengungkapkanya kepadaku .Tapi aku harus bagaimana? ?Disisi lain aku masih mengharapkan Ujang.  -_-
Tiba tiba handphoneku bordering .dan kuangkat telfon dari Ujang .sungguh senangnya :-D.
            “Sri,sungguh bersabarlah.Sahabat kita..” Isak tangisnya mendengung lirih.
            “Ada apa Jang? Sahabat kita As’ad  maksud kamu??”Tanyaku penasaran dan seperti ada kesedihan didalamnya.
            “As’ad Kecelakaan di depan rumahnya ketika ia akan menyebrang.dan ia dipanggil oleh sang maha kuasa.jasadnya di otopsi di RS Jokowi .ku tunggu disana Sri.” Ucapnya terbata-bata menunggang kesedihan.
Sungguh Pikirku tak karuan  .Air mataku mengalir deras begitu saja. Apalah daya aku ini…Sahabat tak berguna kah?Apakah semua ini salahku ya Rabb???